DPR Minta Rencana Impor Gula Mentah Dikaji Ulang

16/04/2018 14.35

Foto: Mindra Purnomo

Jakarta - Rencana pemerintah untuk mengimpor gula mentah di tahun ini mendapatkan masukan dari DPR. Menurut anggota Komisi IV DPR, Kasriyah, sebelum melakukan impor pemerintah harus melakukan evaluasi soal dampaknya ke petani.

"Sangat disayangkan jika sedikit-sedikit mengimpor gula dari luar negeri. Padahal kita mempunyai kemampuan untuk memproduksinya sendiri," ujar Kasriyah dalam keterangan tertulis, Jumat (13/4/2018). Menurut politisi PPP itu, saat ini petani di Indonesia memiliki potensi untuk menyediakan bahan baku kebutuhan dalam negeri. Untuk itu, rencana impor gula mentah tersebut harus dievaluasi agar kebijakan tersebut tak berdampak buruk pada petani dan harga tebu dari petani.

Bukan hanya soal gula, Kasriyah juga mengingatkan agar pemerintah turut mempertimbangkan kebijakan impor di produk lainnya seperti beras, garam, dan lainnya. Khusus untuk pertanian, ia melanjutkan, pemerintah diharapkan bisa memaksimalkan potensi petani. Karena menurut dia jumlah lahan pertanian di Indonesia sangat luas. Kawasan di Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa masih memiliki lahan yang bisa dimaksimalkan.

Kasriyah pun mengungkap hal itu tentunya perlu juga didukung dengan kebijakan penyediaan pupuk yang terjangkau. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan rencana untuk membuka impor gula mentah ini dilakukan untuk mengisi kebutuhan nasional hingga Mei 2019.

Meski demikian Enggar menjelaskan dari perkiraan kekurangan gula mentah sekitar 1,1 juta ton hingga tahun depan tak semuanya dipenuhi dari impor. Ia juga belum mengungkap kapan impor akan dilakukan. "(1,1 juta ton) Itu total alokasi. Diperkirakan proyeksi kebutuhannya sekian. Tetapi kan saya tidak keluarkan semua," ujarnya beberapa waktu lalu. (nwy/ang)

Sumber : Detik.com

https://finance.detik.com/industri/d-3970228/dpr-minta-rencana-impor-gula-mentah-dikaji-ulang?_ga=2.54532718.413829485.1523863172-1834457094.1514448206

« Back